Melihat kesukaran2 empek Yoe, Ban Teng mengadjaknja tinggal bersama dirumahnja. Tetapi orang tua itu njata berwatak aneh dan keras kepala pula. Ia menolak tawaran tawaran pemuda itu terus menerus. Ban Teng tidak mendjadi putus harapan dan mendesak terus. Achirnja, melihat, kesungguhan hati Ban Teng, empek Yoe tergerak hati. "Baiklah", katanja, "akan kuturuti tinggal bersama kau. Dan untuk membalas kebaikanmu itu, nanti kuadjarkan kau beberapa matjam ilmu pukulan." Bukan main girangnja Ban Teng. Serta-merta ia mendjatuhkan diri, berlutut dihadapan orangtua itu dan memberi hormat (paykoei). Mulai hari itu si empek tinggal dirumah Ban Teng. Pemuda kita ini menjediakan sebuah kamar jang paling baik untuknja, menjediakan pula seorang pelajan chusus untuk mengurus keperluannja dan memperlakukan seolah2 ajah sendiri. Mulai waktu itu saban hari ia berlatih silat atau melewati waktu dengan mengobrol dengan gurunja tentang ilmu silat. Toko araknja tidak diperhatikannja lagi:segala urusan perusahaan dipertjajakannja kepada salah seorang pegawainja jang dipertjajanja. Bahkan anak-istrinjapun sampai2 diabaikannja, sehingga isterinja bermula heran, kemudian mendjadi mendongkol dan gusar. Njonja Lo tidak habis mengerti sikap suaminja jang lebih mementingkan silat daripada perusahaannja dan begitu menghargai si-empek jang kurus kering itu. Bagaimana mungkin begitu pikir Njonja Lo - seorang2 jang kurus itu dan selemah itu nampaknja, dapat mengajarkan ilmu silat? "Kalau kudorong, tentu ia djatuh terpelanting!" kata hati ketjilnja. Nasihat2 isterinja tidak dihiraukan Ban Teng. Sebaliknja, ia menjadi gusar sehingga seringkali suami-isteri itu mendjadi berdjidera oleh karenanja. Kegemaran Ban Teng akan ilmu silat semakin mendjadi2. Untuk mengambil hati gurunja, ia mengumpulkan teman2 dan kenalan2 untuk beladjar silat pada guru itu. Peladjaran diberikan didalam suatu rumah chusus untuk itu, sebuah 'bu-kwan'. Uang peladjaran jang dapat dikumpul Ban Teng dari murid2 baru itu sama sekali berdjumlah 12 kouw (dollar) sebulan. Pada djumlah ini ia tambahkan uangnja sendiri, sehingga dapat ia memberikan gurunja dua dollar seharinja. Jang memberikan peladjaran silat itu boleh dikatakan Ban Teng sendiri. Gurunja hanja duduk mengawasi sadja. "Dengan kerbau tidak mungkin merundingkan sadjak"..... PADA suatu hari Ban Teng datang terlambat ditempat latihan. Murid2 lain sudah berkumpul dan empek Yoe menjuruh mereka mulai berlatih. Beberapa orang murid jang bertubuh besar2, jang selalu menerima peladjaran dari Ban Teng dan belum pernah melihat guru mereka sendiri turuntangan, sudah lama me-ragu2kan kepandaian guru itu. Benarkah empek itu pandai ilmu silat, seperti dikatakan Ban Teng?bertanja hati ketjil mereka. Untuk mendapat kepastian, mereka bermufakatan untuk mengadjak empek Yoe tjoba2 mengadu tangan, jakni berlatih saling membenturkan lengan. "Tunggu sadja sampai Ban Teng datang", jawab empek Yoe. Djawaban ini semakin meragu2kan murid2 itu. Mereka mendesak. Siguru segara merasa, bahwa mereka hendak mengudjinja. Bangunlah ia dari tempat-duduknja. Lalu ia memilih empat orang murid jang bertubuh paling besar dan paling kuat nampaknja. Mereka disuruhnja berdiri berbaris sendangkan jang lain2 mengawasi dengan penuh perhatian. "Marilah kita mulai." kata empek Yoe. Mereka mulai mengadu tangan. Tiada seorang pun antara murid2 itu sanggup berbenturan lengan sampai dua kali dengan siguru. Serasa seolah2 lengan mereka dihantam dengan sebatang balok jang luar biasa keras, lagi tadjam!Mereka ter-heran2, bagaimana empek Yoe dapat mengerahkan tenaga sebesar itu. Mulai detik itu semua murid tunduk benar2 kepada guru mereka dan nama Yoe Tjoen Gan mulai banjak yang disebut orang. Salah seorang pegawai toko arak Ban Teng paham akan ilmu silat. Pegawai ini tinggi-besar dan bertubuh kokoh-kekar. Pada suatu hari Ban Teng men-tjoba2 kepandainnja dengan pegawai itu. Akibatnja diluar dugaanja. Dengan sekali gedor sipegawai berhasil membikin Ban Teng djatuh terlentang diatas sebuah tong arak. Ban Teng merasa ketjewa sekali. Kata sipegawai : "Untuk apa tuan mengangkat seorang jang tubuhnja seperti lidih mendjadi guru silat tuan?Ia begitu kurus-kering, sehingga kalau saja ketok sekali sadja dengan sumpit, tentunja dia mati!" Ban Teng sangat mendongkol, akan tetapi tidak dapat mengatakan apa2. Ketika masuk ke dalam kamar gurunja, ia melihat empek Yoe ada disitu. Karena pembitjaraannja dengan pegawai tadi terdjadi diruangan sebelah kamar itu, tentunja empek Yoe dapat mendengarnja dengan tegas. Bertanja Ban Teng, apakah si guru dapat dengar apa jang dikatakan sipegawainja?Ketika gurunja mengatakan, bahwa ia telah mendengar semuanja, Ban Teng bertanya, mengapakah guru itu tinggal diam sadja dan tidak mendjadi marah? Djawab Yoe Tjoen Gan dengan singkat: " Ka gu gim si (Dengan seekor kerbau tidak mungkin orang berunding tentang sadjak). Kini, sebaiknja kau beladjar sadja dengan giat." Sehabis ber-kata2 si guru berlalu dari kamar itu. Djuga istrinja mengedjek Ban Teng ketika mendengar peristiwa itu. "Untuk apa kau beladjar silat pada orang begitu?" bertanja njonja Lo. "Biasanja tjuma makan tidur sadja. Pertjuma membuang uang, tempo dan tenaga dengan tidak ada hasilnja. Terus menerus kau dipermainkan sadja!" Kata2 isterinja menimbulkan amarah Ban Teng. Mereka djadi bertjidera hebat sekali. Empek Yoe mendapat dengar tentang kedjadian ini. Kepada Ban Teng dikatakannja dengan ketus " Kee bo ee ti to tjam tao (kalau ajam betina dapat berkokok, sebaiknja ditabas aja batang lehernja)!" Sudah barang tentu, isterinja tidak dapat menerima kata2 itu. Antara Ban Teng dan isterinja lalu terbit pertjekjokan hebat sekali, sampai2 mereka mau bertjerai. Tapi sjukur, sebelum terdjadi demikian, seorang paman dan bibi keenam Ban Teng (laktjek dan laktjim), datang sama tengah dan mendamaikan suami-isteri itu. Mereka berpendapat, isteri Ban Teng bersalah karena terlampau mau menjampuri urusan suaminja dan menjuruh njonja itu menghaturkan maaf kepada empek Yoe. Demikianlah urusan dapat diselesaikan setjara damai.
|