Halaman 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12
 
PADA suatu waktu, untuk urusan perusahaan, Ban Teng menudju Amoy (Emoei). Sebelum bertolak. gurunja mengatakan bahwa di Amoy ada seorang saudara--seperguruannja (suheng) Jang bernama Goei In Lam Ian bergelar Hoan Thian Pa (Matjan Tutul Jang Membalikkan Langit). Setibanja di Amoy, Ban Teng menjambangi susiok (paman-guru) itu dan memperkenalkan diri sebagai murid Yoe. Goei minta ia memperiihatkan apa jang sampai sebegitu djauh dapat dima-hirkannj'a dibawah pimpinan guru itu. Setelah menjaksikan permainan Ban Teng, Goei tidak berkata apa2, melainkan menggelengkan kepala. Kemudian baru dikatakannja: "Apabila nanti sudah kembali di Tjiobee, katakan kepada gurumu, bahwa aku minta ia datang disini. Ada sesuatu jang ingin kubitjarakan dengannja."

Kembali ditempat tinggalnja, Ban Teng menjampaikan pesan itu. Serta-merta wadjah Yoe berubah, se-olah2 suatu firasat tidak enak timbul padanja. Namun ia memenuhi permintaan Goei dan menudju Amoy.

Ketika kedua saudara-seperguruan itu berhadapan muka dengan muka, Goei jang bertabiat djudjur dan selalu berterus-terang berkata kepada Yoe: "Sungguh engkau seorang jang susah diurus. Berulangkali kau berdagang, berulangkali kami membantu engkau dengan modal, tetapi berulangkali pula kaugagal. Perusahaanmu jang paling belakang, jakni perusahaan batu nisan, sampai2 sirna tampakrana, sehingga terpaksa kautinggal dirumah muridmu Ban Teng jang begitu setia kepadamu dan mendjundjung kau sebagai ajah sendiri. Kini kau mendapatkan seorang murid jang begitu baik, tetapi kau mempermainkannja. Tiada kau mengadjarnja dengan sungguh2. Memang benar, tidak sembarang dapat kita menerima murid, akan tetapi djika mendapatkan murid jang benar2 baik, seharusnjalah kita menurunkan kepandaian kita dgn. setulus hati. Tetapi tjaramu mengadjar Ban Teng sangat memalukan. Adakah engkau bermaksud merusak nama baik Ho Yang Pay?Kalau terus begini sepakterdjangmu, kelak kalau kau mati, djenazahmu tiada jang urus!"

Teguran pedas ini serentak membuka mata Yoe. Ia sadar akan kekeliruannja. Memang benar, sampai sebegitu djauh ia mengadjar Ban Teng? dengan setengah hati. Teguran saudara seperguruannja itu kini menjebabkan ia merasa menjesal akan perbuatannja sendiri. Ketika kembali di Tjiobee, pada suatu malam tg. 15 bulan Tionghoa ia memanggil Ban Teng. Untuk pertama kalinja itu ia memetjahkan segala rahasia teknik kunthao tjabang Ho Yang Pay sampai habis2. Bagaimana tjara memberi pukulan, tjara bagaimana menggerakkan/mengibaskan tubuh supaja tenaga sebesar2nja dapat disalurkan pada pukulan jang tengah diberikan kepada lawan, seperti seekor ajam mengibaskan tubuh untuk membersihkan bulu2nja daripada debu, bagaimana harus menampung pukulan pihak lawan, bagaimana harus meng-gerakkan tangan dan kaki dengan serentak dalam gerakan "mengatjip", dll. BanTeng merasa seolah2 seorang buta jang baru melek. Mengertilah dia betapa tinggi mutu intisari ilmu silat jang dipeladjarinja. Maka mulai waktu itu ia berlatih semakin giat dan radjin.

Tiga bulan kemudian gurunja berkata kepadanja: "Sekarang boleh kautjoba main2 lagi dengan pegawaimu jang sombong itu. Kalau kali ini ia dapat mendjatuhkan kau, djangan kau akui aku sebagai gurumu lagi." Apa jang dikatakan Yoe itu terbukti. Dalam pertjobaan dengan pegawai itu, dengan dua kali gerakan Ban Teng berhasil membikin pegawainja itu terpental djatuh keatas sebuah tong berisikan kotoran manusia disudut kamar. Tjoba tong itu tiada tutupnja, pasti sipegawai tertjemplung didalamnja! Sipegawai ter-heran2 sehingga tidak dapat berkata apa2.

Ban Teng mendapat hati. Serentak kepertjajaan kepada diri sendiri pulih. Ia menantang musuhnja jang lama untuk berkelahi. "Seorang lawan seorang boleh," katanja.
"Tetapi kalau kamu mau main kerojok, djuga boleh!" Sudah tentu lawan2nja lebih suka main kerojok. Tetapi kali ini mereka ketjele. Tiada seorang lawan dapat datang dekat pada Ban Teng. Barangsiapa jang madju menjerang, tanpa mengetahui apa jang terdjadi dengan diri mereka, tiba2 mendapatkan dirinja sendiri bergelimpangan ditanah. Begitu tjepat gerak-gerik dan "katjipan2" Ban Teng, sehingga musuh2nja tidak dapat melihatnja.

Murid jang berbakti

MULAI hari itu pamor Ban Teng naik. Tjiobee mendjadi gempar dan lawan2nja tiada jang berani mengganggunja lagi. Ban Teng berlatih semakin giat dan sungguh2. Tetapi sajang, sebelum peladjarannja sempurna benar dan ketika ia berumur 27 tahun, gurunja meninggal dunia. Sebelum menghembuskan napas jang penghabisan, Yoe berkata kepada muridnja itu: "Peladjaranmu sudah tjukup baik. Rasanja sukar kau mendapatkan tandingan. Tetapi masih banjak jang belum dapat kau peladjari." Ia mengambil sebuah ban pinggang dari kulit dan dua djilid buku dan menerimakannja kepada Ban Teng."Aku tidak dapat meninggalkan apa2 bagimu. Melainkan ban-pinggang ini, jang selalu menjertai aku dalam perantauanku. Lebih djauh sedjilid buku ini jang berisikan resep2 obat untuk menjembuhkan berbagai penjakit, dan sedjilid buku ini jang memuat tjatatan2 tentang ilmusilat Ho Yang Pay. Beladjarlah dengan radjin dan giat dengan berpedoman kepada bukutjatatanku itu."

Sehabis berkata2, Yoe menghembuskan napas penghabisan diatas pangkuan Ban Teng. Tak dapat dilukiskan betapa sedih dan hantjur luluh hati simurid, jang menangis tersedu2 sekali. Djenazah gurunja diurus sebagaimana mestinja dan dikebumikan dengan upatjara jang



Halaman 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12