lajak. Bahkan ia sendiri berlaku sebagai "hauwlam", berkabung
sebagai putera almarhum. Begitu besar dirasakannja budi jang
dilimpahkan gurunja kepadanja, sehingga dihadapan arwah guru
itu ia berdjandji bahwa kalau kelak ia memperoleh seorang anak laki2,
anak itu akan diakui sebagai anak gurunja dan diberi she (nama keturunan) Yoe.
Seluruh Tjiobee gempar membitjarakan peristiwa ini, lebih2 kebaktian Ban Teng kepada gurunja dan perbuatannja itu,
jang mengundjukkan bahwa ia seorang jang djudjur-tulus serta mendjundjung tinggi budi-kebaikan jang pernah dilimpahkan
atas dirinja. (Banpinggang peninggalan gurunja itu sampai sekarang masih disimpan para ahliwaris Ban Teng).
Pada waktu itu toko araknja sudah tidak ada, karena tidak terurus benar. Tetapi Ban Teng tidak menghiraukannja.
Jang dipentingkannja ialah ilmusilat. Saudara2 seperguruan Yoe, jakni Goei In Lam jang sudah disebutkan diatas,
lebih djauh Liem Kioe Djie dan Ong Tjian pwee merasa terharu mendengar bakti Ban Teng terhadap gurunja.
Mereka sering mengundjungi Ban Teng di Tjiobee, sebaliknja Ban Teng pun sering menjambangi mereka - kesempatan mana
dipergunakan paman2 -guru itu untuk memberi pimpinan lebih djauh pada pemuda itu dalam ilmusilat.
Dengan demikian, Ban Teng tidak sadja dapat memahirkan apa jang telah diadjarkan mendiang gurunja,
tetapi djuga keahlian chusus daripada ketiga paman guru itu, jang memang masing2 mempunjai keahlian sendiri2
dan menurunkannja kepada Ban Teng. Misalnja Liem Kioe Djie paling ahli antara mereka dalam gerakan tangan,
mengirim pukulan2 keras dan tjepat disertai kibasan (menggebarkan) tubuh jang dapat menjalurkan sebanjak tenaga
kearah lengan dan tindju. Iapun ahli obat2an untuk menjembuhkan luka2 didalam tubuh karena terpukul hebat ('siang'),
menjambung tulang patah atau sambungan2 anggota2 tubuh jang telah lepas. Ong Tjian Pwee, jang djuga
dinamakan Ong Tiauw Gan, paling ahli dalam gerakan kaki. Tulang keringnja paling keras dan tendangannja
paling hebat. Ia terpandai dalam geraksilat "Tjeng Hong Kui Tie" (Angin Sedjuk Menjapu Tanah),
pula paham benar ilmu bongmeh (memeriksa penjakit orang dengan merasakan denjutan nadi), dapat menjembuhkan
berbagai penjakit luar dan dalam, penjakit anak2, penjakit orang perempuan dan orang tua.
Goei In Lam terpandai dalam gerakan "mengatjip" atau "menggunting" dengan gerakan kaki dan tangan
serentak. "Timing"nja paling tepat. Diantara saudara2-seperguruannja dialah paling paham "laykang",
ilmu mengerahkan napas dan tenaga-dalam. Keahlian2 chusus itu semua dimahirkan Ban Teng dibawah pimpinan paman2-gurunja.
Putera Liem Kioe Djie, jang bernama Liem Thian In, seorang pemuda bertubuh tinggi-besar, bertenaga besar pula
dan suaranja seperti guntur, jang djuga pandai ilmusilat, belum pernah dapat mendjatuhkan Ban Teng djika
mereka berlatih bersama. Djuga Ban Teng belum pernah dapat mengalahkannja. Thian In pada suatu waktu rupanja
mendongkol djuga dan berkata kepada ajahnja supaja djangan mengadjar Ban Teng habis2, karena ia pemarah,
suka tjari setori dan mungkin kelak menjusahkan mereka.
Djawab ajahnja: "Kalau kepandaianku tidak kuwariskan kepada Ban Teng, tiada orang lain lagi......"
Ahli tendangan-geledek kena tendang
KETIKA berumur 29 tahun, atas izin paman2-gurunja, Ban Teng membuka sebuah rumah obat dan mendjadi sinshe,
karena toko araknja sudah tidak ada lagi dan uangpun habis dikeluarkan untuk beladjar silat dan ilmu obat2an.
Sebagai sinshe, nama Ban Teng segera terkenal diseluruh Tjiobee, karena banjak orang telah dapat disembuhkannja
dari penjakitnja.
Pada suatu hari orang menjampaikan berita kepadanja bahwa di Tjiobee seorang gurusilat bernama Heng Goan Say
dari Engteng, jang mempunjai banjak murid dan memberi peladjaran dalam kira2 6-7 bukwan, sering temberang
dihadapan umum dan mem-busuk2kan nama Ho Yang Pay. Heng Goan Say disohorkan orang untuk tendangannja
jang liehay dan menggeledek. Katanja ia telah bertemberang, bahwa sekali mengendjot tubuh ia dapat berlontjat
sampai keatas genting. Dengan sekali tendang ia dapat membikin orang muntah darah, katanja.
Barangsiapa tidak pertjaja, ia mempersilahkan men-tjoba2nya, Begitu berita jang disampaikan orang kepada Ban Teng.
Ban Teng jang agak pemarah, merasa gusar sekali ketika mendengar nama Ho Yang Pay dibusuk2kan. Dengan membekal
uang 12 kouw dan sehelai thiap (kartjis-nama) ia mentjari Goan Say dan mendjumpainja dalam salah sebuah bukwan-nja.
Setelah berhadapan dengan gurusilat itu dinjatakannja niatnja untuk beladjar pada guru itu, tetapi sebelumnja
mau ia men-tjoba2 dahulu kepandaian Goan Say. Terus-terang dikatakannja bahwa ia murid Ho Yang Pay.
Goan Say jang pernah mendengar nama Ban Teng, terkedjut djuga melihat tubuh pemuda jang pendek dan kokoh kekar itu.
Namun dianggapnja sepi sadja. "Sebelum kau mengudji kepandaian denganku, baiklah kau mentjoba anakku," katanja.
Putera Heng Goan Say jang djuga hadir, dengan tidak berkata apa2 se-konjong2 menjerbu Ban Teng dengan djotosan
kearah dada. Bokongan ini tidak membingungkan murid Ho Yang Pay itu. Tjepat ia menjambutnja
dengan tipu "Kee Boo Tjeng Sit" (Ajam Betina Mementang Sayap): miringkan tubuh untuk mengasih lewat djotosan itu,
serentak mendjepit tangan lawan dengan lengan kanannja dan, sambil mengibaskan tubuh, menggedor siku lawan
dengan tangan kirinja. Diiringi suara "prrrtak", putera Goan Say terpental dan meringis memegang sikunja. Patah !
Goan Say melontjat bangun dan sambil menggerung menjerbu dengan tendangan-geledeknja. Ban Teng, jang sudah dengar
orang banjak menggembargemborkan tendangan itu, tidak berani membenturnja. hanja mengegosi tubuh.
Sembilan kali Goan Say menendang dengar. tendangan2nja susul-menjusul, jang satu lebih lihay daripada jang
lain — sembilan kali luput. Ban Teng mendapat kenjataan, tendangan itu tidak selihay jang disohorkan orang.
Tetapi baru ia niat membenturnja, Goan Say mengubah silatnja dan setjepat kilat mengirim djotosan kearah Ban Teng,
Dengan tidak kalah tjepatnja Ban Teng menangkap lengan lawan dengan tipusilat "In Tien Shou" — menangkap lengan itu
dengan kedua tangan, menariknja, lalu mengirim tendangan kebawah ketiak. Tepat sekali tendangan Ban Teng itu,
sehingga Goan Say djatuh tersungkur sambil mendjerit dan mengeluarkan busah dari mulutnja!
Tidak sadja murid2 Goan Say, tetapi Ban Teng sendiri terkedjut bukan main. Ia tidak menjangka, tendangannja sehebat itu
dan ia merasa menjesal akan akibat2nja. Ter-gesa2 ia mengobati Goan Say. Ketika bermohon diri, ia meminta kembali
kartjis-namanja dan meninggalkan uang jang 12 kouw itu. Dikatakannja kepada Goan Say: "Bagaimanapun djua,
tetap aku mengaku mendjadi muridmu. Kalau nanti ada lagi jang hendak mentjoba2 kepandaianmu.
katakanlah ia harus melawan aku dahulu."
Heng Goan Say tidak berkata apa. Hatinja tetap panas. Belakangan ia menutup semua bukwan-nja dan
kembali kekampung halamannja. Peristiwa ini menggemparkan Tjiobee dan mendjadi buahtutur di-warung2.
Belakangan dua orang murid