Goan Say mendatangi Ban Teng di Tjiobee untuk .membalas. Pada waktu itu Ban Teng tengah melatih murid2nja — antaranja keponakannja, Lo Boen Lioe, jang pernah turut berlatih bersama ketika Ban Teng masih beladjar pada Yoe Tjoen Gan. Seorang murid Ban Teng minta perkenan melajani murid2 Goan Say itu. Achirnja, dalam dua kali gebrakan, kedua murid Goan Say dapat didjatuhkan murid Ban Teng, sehingga mereka berlalu dengan ke-malu2an.
Pendjual-kojok jang temberang
BETAPA berangasan pemuda Ban Teng, ternjata daripada peristiwa dibawah ini.
Pada suatu hari kepadanja disampaikan kabar, bahwa seorang pendjual kojok
jang datang di Tjiobee dan mendjual kojoknja sambil mempertontonkan silat,
temberang dihadapan umum bahwa ia pernah mendjatuhkan Goei In Lam.
Serta-merta Ban Teng mendjadi marah dan mendatangi pendjual kojok itu jang
tengah mengadakan pertundjukan disebuah lapangan. Sipendjual kojok mendjadi
gentar ketika mengetahui ia tengah berhadapan dengan Ban Teng. Atas pertanjaan sipemuda,
ia menjangkal pernah menjiarkan tjerita bahwa ia telah djatuhkan Goei In Lam.
Tetapi Ban Teng jang sudah marah benar berkata: "Mengaku atau tidak, diluaran orang
sudah gempar mentjeriterakannja. Sekarang harus kaubertanding melawan aku.
Kalau belum kubuat kau djatuh-bangun tiga kali, belum puas hatiku."
Dipaksa berkelahi dihadapan orang banjak, pendjual kojok, apa boleh buat, melajaninja.
Maka mulailah ia menjerang, tetapi begitu tjepat serangannja, begitu tjepat pula ia djatuh terlentang,
sambil berteriak "Hai ya!" Ban Teng menjambutnja dengan "Kaota", jaitu kaki depannja menjambar tumit kaki-depan
lawan, tangan kiri tjepat sekali menjingkirkan tindju musuh, serentak menjerbu masuk dengan tangan
kanan menghantam leher musuh dari samping. Serangan kedua disambut Ban Teng dengan "Siangpee",
kaki kiri "mengatjip" tumit lawan. kedua tindju lawan disingkirkan dari samping, kemudian dengan
sisi kedua lengan dan tangan menggedorleher atau dada lawan dari samping lain. Kembali sipendjual kojok
terpaksa mentjium-tanah. Ketika ia bangun kembali, para penonton datang sama tengah dan mengachiri
perkelahian itu. Ban Teng masih begitu marah, sehingga ia ambil semua pekakas silat sipendjual kojok
dan membawanja pulang. Sipendjual kojok hanja dapat mengawasi dengan terbengong.
Belakangan pekakas2 itu dibawa Ban Teng ke Amoy dan dipeserahkan kepada Goei In Lam
sambil mentjeriterakan duduknja perkara, Goei hanja tertawa sambil mengangguk2.
Tiga atau empat hari kemudian, pendjual kojok itu datang pada Goei dan mengadu bahwa
seorang murid Goei jang bernama Lo Ban Teng telah membikin ia malu dihadapan orang banjak.
Serentak ia minta supaja Goei suka mengembalikan pekakas"nja. Goei berpura2 tidak tahu.
"Benarkah itu?" bertanja Goei. "Mungkinkah kau, jang namanja begitu kesohor,
didjatuhkan Ban Teng? Ban Teng tidak bisa apa2. la masih hidjau dan bodoh," kata Goei lagi sambil mengedjek.
Pendjual kojok itu mendjadi menangis karena malu dan minta diampuni untuk kesalahannja jang telah mendjelek2kan
nama Goei. Barulah Goei mengembalikan pekakas2nja dengan pesan supaja selandjutnja djangan ia sembarangan bitjara
seenaknja sadja, Mulai waktu itu, tiada pendjual kojok berani datang di Tjiobee tanpa minta izin dahulu kepada Ban Teng.
Pertandingan silat jang dibatalkan
SALAH satu sifat Ban Teng jang menjebabkan ia sangat dihargai dan dipandang tinggi diantara kawan2
dan saudara2 seperguruannja ialah sifatnja jang orang Tionghoa namakan 'tam-su-ja':
selalu bersedia membela kawan habis2. Pada suatu waktu seorang saudara-seperguruannja Lim Kiang,
tinggal dikota Tangbwee, telah berbentrokan dengan salah seorang guru silat tjabang Yao Tjong Pay.
Guru silat itu telah didjatuhkan Lim Kiang ditempat ramai, akan tetapi ia memutarbalikkan duduknja
perkara dan gembar-gembor bahwa Lim Kiang-lah jang telah didjatuhkannja. Lebih djauh ia menantang,
bahwa kalau Lim Kiang masih belum puas, boleh 'pi-bu', adu silat, lagi dengannja.
Ketika mendengar hal itu, Lim Kiang menerima tantangan tersebut. Pihak Yao Tjong Pay
lalu membangun sebuah panggung 'loeitay', panggung untuk mengadu silat,
dan menjiarkan surat selebaran diseluruh kota. Pi-bu akan dilangsungkan dikuil Jo Tjiu
Bio dikota Tangbwee. Karena mendengar kabar bahwa pihak Yao Tjong Pay akan mendatangkan
semua anggotanja, bahkan ketuanja (tjiangbundjin) djuga akan turutserta, Lim Kiang menulis
surat kepada Ban Teng tentang hal ini. Seterimanja surat itu, Ban Teng lantas menudju Tangbwee.
Pada hari jang telah ditetapkan, dihalaman Yo Tjiu Bio telah berkerumun banjak sekali orang jang
hendak menjaksikan pi-bu itu. Pihak Yao Tjong Pay datang dengan kira2 tigapuluh orang dan beberapa
antaranja malah membawa sendjata-api. Melihat Lo Ban Teng didamping Lim Kiang,
anggota2 Yao Tjong Pay jang pernah mendengar nama Lo Ban Teng atau mengenal-nja,
berkasak-kusuk. Namun karena djumlah mereka lebih besar, mereka tidak gentar, malah. sebaliknja bersikap tjongkak.
Ban Teng madju kemuka dan bertanja, siapakah jang mendirikan loeitay dan bagaimana sjarat2nja?
Dari pihak Yao Tjong Pay keluar ketuanja. Kepada Ban Teng dikatakannja, bahwa kini suasana telah
mendjadi hangat, hal mana sangat disesalkannja, karena bentrokan antara perseorangan mungkin.
mengakibatkan bentrokan antara partai dengan partai. Paling baik, kata ketua itu, perselisihan ini
didamaikan sadja. Ban Teng jang sudah mendjadi mendongkol karena sikap anggota2 Yao Tjong Pay jang djumawa,
mendjawab dengan ketus dan kasar: "Kalian telah terlandjur mendirikan loeitay dan berkumpul dalam djumlah
begini besar — habis, mau apa lagi? Kalau kalian mau bertempur seorang lawan seorang, boleh. Mau mengerojok
djuga akan kulajani. Lo Ban Teng seorang masih sanggup melajani semua anggota Yao Tjong Pay."
Pada waktu ketegangan tengah memuntjak, dengan tiba2 datang sedjumlah orang polisi.
Mereka bertanja, siapakah jang mendirikan loeitay? Pihak Yao Tjong Pay mengakui perbuatan mereka,
tetapi waktu ditanjakan surat-izinnja mereka tidak dapat memperlihatkannja. Pihak polisi mendjadi marah,
lebih2 ketika melihat ada orang2 jang membawa sendjata-api. "Kamu terang mau bikin rusuh disini," kata pemimpin polisi itu kepada orang2 Yao Tjong Pay. Serentak polisi bertindak, membubarkan mereka dengan petjut,
sehingga orang2 Yao Tjong Pay pada bubar dan pi-bu mendjadi batal.