Halaman 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12
 
Sikaja jang ber-main2 dengan granat
SEMAKIN Lama nama Lo Ban Teng semakin kesohor. Diseluruh Tjiobee, Engteng, Amoy. Tangbwee dan Tjoantju, namanja sadja sudah tjukup untuk menggentarkan orang. Ia diberi gelaran "Pek Bin Kim Kong" atau "Malaikat Berwadjah Putih" dari Ho Yang Pay. Tadi gurusilat berani mengadjar ditempat2 tersebut tanpa memohon perkenannja. Tiada pendjual kojok, jang mendjual barang2nja sambil bersilat, berani datang ketempat2 itu tanpa izinnja, Dalam kalangan Ho Yang Pay sendiri ia desegani: keahliannja bersilat telah mentjapai taraf sedemikian sehingga dapat ia merendengi keahlian paman2-gurunja jang memimpinnja.

Sebagai seorang muda, Ban Teng tidak bebas daripada tjatjat2 dan kelemahan2 jang biasa nampak pada golongan pemuda: agak binal. suka berkelujuran diwaktu malam, sering mengundjungi tempat2 plesiran. Bahkan ia bergaul djuga dengan orang2 jang tergolong pada jang dinamakan 'underworld'. Kebiasaannja ini pada suatu waktu menjebabkannja terlibat dalam sebuah peristiwa jang mengerikan tetapi djuga lutju lebih tegas: berachir lutju! Salah seorang kenaiannja telah berbentrok dengan seorang hartawan dikota Tjiobee. Sebenarnja kesalahan ada dipihak kenalan itu, karena telah mengadakan perhubungan asmara dengan seorang wanita 'piaraan' atau selir sihartawan. Pada suatu malam sihartawan mendapat kabar bahwa selirnja berada disebuah tempat plesiran bersama kenalan Ban Teng itu. Mengetahui bahwa ia tengah berurusan dengan orang2 jang paham silat, sihartawan dengan nekat mendatangi tempat tersebut dengan membawa dua buah granat tangan. entah dari mana didapatnja.

Ditempat plesiran itu ia menuntut supaja selirnja dikembalikanlikan kepadanja. Kalau tidak,ia akan mendjatuhkan granat itu disitu. Para hadirin mendjadi kaget dan panik melihat sikaja meng-atjung2kan granat. Hanja satu orang tinggal tetap tenang: Lo Ban Teng. Ia ini bangun dari tempatduduknja dan mendekati sihartawan. Dengan tenang dikatakannja kepada orang itu: ..Silakan! Lemparkanlah granat2 itu!" Sihartawan mundur beberapa tindak. "Djika kaudatang dekat, kulepaskan ini!" antjamnja sambil terus meng-atjung2kan granat2-nja. Ban Teng semakin mendekatinja, bahkan men-epok2 bahunja sambil berkata: "Hajo, lepas!...... Hajo, lepaskan, sahabat! Lekas sedikit!"......

Effeknja diluar dugaan. Sihartawan tidak melepaskan atau melontarkan granat2nja, melainkan berbalik dan ter-birit2 lari keluar, sehingga Ban teng mendjadi tertawa ter-bahak2. Para hadirin, sahabat dan kawan2 Ban Teng, menghampiri pemuda kita. Mereka menghela napas lega dan menggeleng2kan kepala. "Haiya, Ban Teng," kata mereka. "Mengapa kauberlaku begitu gila? Bagaimana, kalau tadi ia melepaskan Kauber-main2 dengan djiwa kita!"

Ban Teng tertawa. "Kalian tidak mengerti." katanja kemudian "Dia seorang hartawan. Orang kaja umumnja tidak berani mati ! Dia 'kan hanja gertak-sambal belaka......" Mereka tertawa bersama......

Ke Indonesia
AKAN mendjadi terlampau pandjang kiranja kisah ini, djika kita mengikuti semua sepakterdjang Pek Bin Kim Kong Lo Ban Teng selagi ada di Tiongkok. Tjukup bila ditjeritakan, bahwa selama berdiam di Tiongkok Selatan, belum pernah ia menemui tandingannja. Ahli silat, lebih2 jang berani temberang dan mem-busuk2kan namanja atau nama Ho Yang Pay, seorang demi seorang didatanginja dan didjatuhkannja, sehingga tiada jang berani terhadapnja.

Didalam tahun 1927, pada waktu Ban Teng berumur kira2 41 tahun, la mendapat undangan dari seorang penduduk Tionghoa di Semarang, Jo Kian Ting, supaja datang di Indonesia. Jo mengetahui, bahwa di Tiongkok Selatan Ban Teng tiada taranja. Maksud Jo ialah menjuruh Ban Teng bertanding dalam sebuah pertempuran diatas sematjam loeitay melawan seorang Negro jang sangai temberang. Negro itu tengah melawat di Indonesia dan mengadakan pertundjukan2 tentang kekuatannja. Dalam pertjakapan2 ia sering mentjela2 silat Tionghoa, jang mana menimbulkan rasa mendongkol Jo. Maka timbullah pikiran padanja untuk tjoba2 mempertandingkan Negro itu melawan Ban Teng.

Ban Teng sendiri rupanja ada niat untuk datang di Indonesia, terutama untuk mengundjukkan kepada saudara-misannja, Lo Ban Keng, jang dulu menganggapnja sebagai seorang manusia tidak punja guna, bahwa kini ia seorang jang sangat dimalui dan dihormati. Ia terima baik usul Jo dan ber-kemas2 untuk bertolak ke Indonesia. Pada waktu itu Lo Boen Lioe sudah ada di Indonesia dan tinggal di Tjirebon, dimana ia memberi peladjaran ilmusilat Tionghoa. Nama Lo Boen Lioe terkenal sampai di Semarang dan tempat2 lain. Lo Ban Teng datang di Indonesia dengan mengadjak seorang kemenakan lain, Lim Tjoei Kang (jang namanja belakangan djuga terkenal dalam kalangan khunthao di Indonesia) jang pada waktu itu dititipkan pada susiok Lo Ban Teng, jaitu sinshe Sim Jang Tek di Singapura. (Sim kini masih hidup dan bekerdja sebagai sinshe di Singapura, disamping mengadjar silat Tionghoa. Jang mengadjar sebenarnja ialah anaknja jang perempuan. Dalam kalangan persilatan disitu Sim sangat disegani). Meskipun Sim sebenarnja merasa keberatan, namun terpaksa ia melepaskan Tjoei Kang pergi bersama Ban Teng, apalagi karena Ban Teng menerangkan: "Aku




Halaman 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12