tidak punja anak laki2. Kepada siapakah dapat kuturunkan kepandaianku kalau tidak kepada Tjoei Kang dan Boen Lioe ? Kini Boen Lioe ada di Tjirebon dan kalau aku berdiam di Semarang, tentunja kumerasa kesepian. Tiada kawan untuk berlatih. Di Indonesia takkan kutinggal lama. Sekembalinja, Tjoei Kang akan kutitipkan pula disini."
Kedatangan Ban Teng di Semarang dan desas-desus tentang kemungkinan diadakannja pertandingan antara dia melawan orang Negro itu, menerbitkan kegemparan dalam kalangan Tionghoa disitu. Jo segera mengadakan persiapan2 untuk mendirikan loeitay, akan tetapi pemerintah tidak memberikan izin, sehingga pertandingan itu mendjadi batal. Lo Ban Teng, jang sebermula niat berdiam paling lama 8 bulan di Indonesia, hendak kembali ke Tiongkok, akan tetapi atas desakan dan permintaan kenalan2nja, djuga mereka jang pernah disembuhkan daripada penjakitnja selama kediamannja jang pendek disini, ia berkeputusan untuk menetap di Semarang. Ia mengusahakan rumah obat dan mendjadi sinshe. Waktu2nja jang terluang dipergunakannja untuk berlatih dan memberi pendidikan lebih djauh kepada Tjoei Kang.
Belum lama berdiam di Semarang, ia berkenalan dengan seorang gadis, Go Bin Nio, jang sangat ramahtamah, halus budi-bahasanja dan wadjahnja selalu dihiasi senjuman. Sinshe Lo Ban Teng mendjadi ketarik hati dan dengan perantaraan beberapa sanak-keluarga dan sahabat2nja, antara keduanja dilangsungkanlah pernikahan. Nona ini mendjadi njonja Lo jang kedua, karena, seperti telah kita tahu, di Tiongkok Ban Teng sudah punja isteri dan seorang anak perempuan,Lee Hwa.
Barongsay berhidung hidjau
SETAHUN kemudian, daripada perkawinan ini terlahirlah seorang anak laki2 jang dinamakan Siauw Hong.
Sinshe kita mendjadi girang tertjampur sedih: girang karena untuk pertama kalinja ia memperoleh seorang anak laki2,
jang telah lama di-idam2kannja; sedih karena mengingat umurnja jg. telah landjut, jang mana menimbulkan ke-ragu2annja,
kalau2 ia tidak dapat menunggu sampai anak itu besar-dewasa dan mendidiknja se-baik2nja.
Mengingat djandjinja kepada marhum guru nja Yoe Tjoen Gan, Ban Teng lalu bersembahjang kepada arwah guru itu,
bahwa anak itu hendaknja dianggap sebagai anak gurunja dan diberinja she (nama-keturunan) Yoe pula.
Pada tahun berikutnja (1931) lahirlah anak laki2 jang kedua, L o Siauw G o k,
jang kini mewarisi keahlian silat dan pengetahuan ajahnja tentang ilmu obat2an.
Dalam tahun 1931 Ban Teng menimbulkan gempar masjarakat Tionghoa dipulau Djawa dengan mengadakan pertundjukan2
Barongsay Berhidung Hidjau, disertai pertundjukan2 silat. Menurut adat-kebiasaan dan aturan di Tiongkok,
orang jang berani mengadakan pertundjukan2 Barongsay Berhidung Hidjau jang dinamakan "Tjing Pie Say", berani pula
dan bersedia diudji keahliannja dalam ilmu silat oleh siapapun djua.
Maksud Lo Ban Teng adalah untuk mentjari tahu, kalau2 dipulau Djawa terdapat guru2 silat Tionghoa
jang pandai. Turutserta dalam pertundjukan2 itu ialah Lo Boen Lioe, Lim Tjoei Kang dan Tan Hoei Liong, lebih djauh murid2
Eng Bu Kwan jang dipimpin Lo Boen Lioe dan Tan Hoei Liong. Pertundjukan2 diadakan di Semarang, Solo dan Djokja
serta mendapat penjambutan luar biasa hangat daripada penduduk2 Tionghoa. Selama pertundjukan2 ditempelkan poster2
atau plakat2 jang berbunji: "Tjing Pie Pek Bak Pay, (Hidung Hidjau, Alis Putih), Bwee Pa, Tju Li Lay
(Kalau mau tjoba2, silakan naik),Kia Sie Emtang Lay (Kalau takut mati, djangan datang disini),
Pa Sie Ka Tie Tay (Kalau kena pukul sampai mati, kubur sendiri)".
Poster2 jang bunjinja agak temberang dan 'beranimati' itu tidak mendapat sambutan dari pihak ahlisilat2 Tionghoa
jang pada waktu itu sudah ada dipulau Djawa. Melainkan belakangan timbul reaksi jang berupa surat2-kaleng
jang memaki2 Lo Ban Teng, antaranja ada jang berbunji: "Engkau djangan membuka mulut besar. Kutendang kau dengan
sebelah kakiku, nanti kau terpental kembali ke Tiongkok!"
Berkenaan dengan surat2-kaleng itu sinshe Lo Ban Teng memasukkan iklan dalam koran2 Tionghoa, mengundang mereka
jang begitu gagah bermain pena supaja memperkenalkan diri dengan terus-terang, dan memberikannja petundjuk2
setjara berterang. Atas iklan ini tidak terdapat sesuatu reaksi.
Didalam pertundjukan barongsay itu, sinshe Lo Boen Lioe memperlihatkan kemahirannja dengan bersilat dengan "sianggan",
sematjam sendjata aneh jang berbentuk mirip potlot, udjungnja seperti bidji kana dan gagangnja pendek pesegi lima seperti belimbing. ("Sianggan" pun dinamakan "Poan Koan Pit"). Sinshe Lim Tjoei Kang memperlihatkan
kekuatan 'laykang' dengan rebah terlentang, ditindih 4 karung beras dan diduduki lima orang dewasa
jang me-ngibarkan2 bendera pesegi-tiga dengan menggunakan tenaga pinggang. Bendera itu dikibarkan
sehingga melukiskan huruf "Giok Beng", nama pemimpin Ho Yang Pay. Sinshe Tan Hoei Liong mempertundjukkan
kekuatan perutnja dengan ditimpah sebuah batu Tiongkok (siang-tjio) besar.
(Setelah ia wafat, batu itu didjadikan bongpay, nisan, kuburannja).
Lebih djauh ia menelan pedang dan memuntahkannja kembali dengan kekuatan pernapasan ('laykang').
Sinshe Lo Ban Teng memberi tjeramah tentang intisari ilmusilat Tionghoa tjiptaan Tat Mo Tjouwsoe,
jang terpandang sebagai pentjiptanja, dan Thio Sam Hong. Lebih djauh ia memberi demonstrasi tentang tjara latihan,
tentang hasil latihan, tentang tenaga getaran atau kibasan tubuh, jang mentjontoh pada kibasan tubuh hewan2.
Karena biaja2 pertundjukan besar dan tudjuan pertundjukan2, jakni mentjari tahu ada atau tidak adanja ahli silat2 Tionghoa
pandai disini, tidak tertjapai, pertundjukan itu diberhentikan.
Djandji jang terpenuhi
DALAM pada itu, nj. Lo Ban Teng jang ke-1, jang ada di Tiongkok, telah mendapat dengar dari orang2 jang kembali
dari Indonesia, bahwa suaminja telah terkena "guna2" seorang perempuan disini. Kabar2 itu banjak di-lebih2kan,
bahkan ada jang mengatakan bahwa sinshe Lo Ban Teng hidup mewah dengan isterinja jang kedua,
naik-turun mobil dan, kalau mau kirim uang kepada anak-isterinja di Tiongkok, selalu dihalang2i isteri ke-2 itu.
Memang benar, selama suatu waktu agak lama ia pernah tidak mengirim uang kepada isterinja jang ke-1,
akan tetapi sebabnja ialah uangnja telah habis membiajai pertundjukan2 Barongsay Berhidung Hidjau itu.
Karena kabar2 jang di-lebih2kan itu, maka atas desakan dan dengan persetudjuan para keluarga,
njonja Lo Ban Teng jang ke-1 bersama putera-pungut mereka Lo Siauw Eng, anak perempuan mereka Lo Lee Hwa
dan suami Lee Hwa (Lee Hwa sementara itu sudah dewasa dan menikah. Tentang Lee Hwa, disebelah bawahan
akan ditjeriterakan lebih djauh. Pen.) bertolak ke Indonesia. Maksud mereka adalah untuk "menolong
sinshe Lo Ban Teng dari tjengkeraman perempuan djahat" itu.
|