Sinshe Lo Ban Teng jang tengah pusing karena kesulitan keuangan sebagai akibat pertundjukan Barongsay,
tambah lagi menerima banjak surat-kaleng jang me-maki2nja, mendjadi bingung djuga ketika menerima kabar bahwa
isterinja jang pertama akan datang dari Tiongkok. Ia chawatir akan terdjadi onar
dalam rumah-tangganja. Akan tetapi isterinja jang ke-2 menghiburkannja.
"Mereka sudah lama tidak pernah berdjumpa denganmu," begitu kata nj. Go Bin Nio", maka sudah barang
tentu mereka merindukan kau dan ingin melihat keadaanmu disini. Ini memang sudah sepantasnja. Kalau mereka datang,
harus kita menjambutnja sendiri. Akan kuperlakukan mereka sebagai saudara dan anak2ku sendiri."
Alangkah terperandjatnja nj.Lo jang ke-1 (Lie Hong Lan),ketika di Priok mereka disambut dengan begitu ramahtamah
oleh nj.Lo jang ke-2 (Go BinNio), sampai2 mereka tidak dapat mengatakan apa2, Tiba dirumah sinshe Lo Ban Teng di
Semarang, nj. Go memperlakukan nj. Lie dan anak-mantunja seolah2 tetamu2 agung.Segala keperluan mereka dilajani
sendiri oleh nj. Go dengan sangat manis-budi dan penuh kasihsajang dan hormat, sehingga nj.Lie mendjadi tertjengang.
Prasangka dan rasa bentji terendap 'madu' itu, jang terkandung dalam sanubarinja semasa masih di Tiongkok dan dalam
perdjalanan, mendjadi bujar.Sebagai gantinja timbullah rasa suka dan simpati, sehingga kedUa njonja Lo itu achirnja
memandang satu sama lain lebih2 daripada saudara sekandung.
"K.uheran," kata nj. Lie pada suatu hari kepada nj. Go, orang mengatakan kepadaku bahwa orang perempuan di Indonesia
djahat2. Tetapi mengapa kau begini baik dan memperlakukan aku begitu ramahtamah dan menjajang?"
Djawab nj. Go: "Perempuan djahat terdapat dinegeri manapun djua. Di Indonesia tidak semua perempuan djahat. Ada
jang baik. Di Tiongkokpun tidak semua perempuan baik. Ada jang djahat, malah jang lebih djahat daripada
di Indoesiapun ada. Terhadap tatji,bagaimana mungkin kuberbuat djahat? Tatji tidak salah apa2. Kalau aku ada
ditempat tatji dan suamiku merantau kelain negeri, menikah dengan seorang perempuan lain dinegeri itu,
kemudian kudatang menjambanginja, lalu perempuan itu mengadjak kuberkelahi — bagaimana rasa hatiku?
Aku tidak dapat berbuat demikian terhadap tatji......" Kata2 ini jang diutjapkan dengan airmata berlinang,
menandakan ketulusan hati, menimbulkan rasa terharu pada nj. Lie dan jang lain2.
Ketika tiba waktunja untuk nj. Lie dan anak-nja kembali ke Tiongkok, dikatakannja kepada nj. Go: "Aku akan pulang
ke Tiongkok — entah kapan dapat kita berdjumpa kembali. Tetapi djika benar engkau menjajangi aku dan menganggap
aku sebagai saudaramu sendiri, seperti kaukatakan, marilah engkau dan Ban Teng turut kami menindjau ke Tiongkok.
Bawalah anak2mu. Ban Tengpun bisa bertemu lagi dengan sanak-keluarga disana."
Dengan tiada ragu2 nj. Go menerima adjakan itu.
Demikianlah Ban Teng dan isterinja jang kedua, sambil membawa kedua anak mereka jang masih ketjil, Siauw Hong jang
sedang mungil2nja dan Siauw Gok jang masih baji, bertolak bersama nj. Lie, Lee Hwa, suami Lee Hwa dan Siauw Eng
ke Tiongkok. Mama-mertua Banteng jang ada disini sangat mengasihi kedua tjutjunja, maka dipesannja anaknja supaja
kedua anak itu dibawa pulang kembali ke Indonesia — djangan ditinggalkan di Tiongkok.
Tiba di Tiongkok dan dikampung halamannja, Ban Teng dan keluarganja tidak segera menudju kerumah mereka, melainkan
langsung kemakam gurunja, Yoe Tjoen Gan. Disitu mereka bersembahjang, dimana Ban Teng memasang hio dan menjatakan
bahwa ia mengadjak anaknja Siauw Hong, jang terlahir di Indonesia dan jang telah diakuinja sebagai putera marhum guru itu.
Setelah sembahjang, barulah mereka pulang kerumah.
Dirumah sendiri, nj. Lie Hong Lan balas memperlakukan nj. Go Bin Nio dengan sangat ramahtamah.
Ia melarang nj. Go melakukan sesuatu pekerdjaan dan segala sesuatu ia sendirilah jang lakukan,
sampai2 sanakkeluarganja merasa mendongkol dan menegurnja.Djawab nj. Lie: "Kalian tidak tahu, dirumahnja
di Indonesia kami diperlakukan begitu ramahtamah sebagai tetamu2 agung. Maka dapatkah kubalas kebaikannja itu
dengan kedjahat2an? Walaupun kukenal dia belum lama, namun kujakin dan tahu benar, dia seorang baik dan berbudi.
Maka kuanggap dia sebagai saudara sekandung."
Kira2 7 bulan kemudian, ketika Ban Teng akan kembali ke Indonesia bersama isterinja jang ke-2 dan kedua anak mereka,
nj. Lie nampak masgul sekali. Kepada nj. Go dikatakannja: "Dengan sesungguhnja aku merasa berat berpisah denganmu.
Ada sesuatu jang ingin kuminta daripadamu, kuharap sudilah kaupertimbangkan. Engkau masih muda, masih bisa memperoleh banjak
anak. Aku sebaliknja sudah tua, tak mungkin kuperoleh seorang putera untuk menjambung turunan Ban Teng.
Maka djika sungguh2 kautjinta kepadaku, tinggalkanlah salah seorang anakmu disini supaja kelak dapat mengurusi harituaku.
Djika seorang daripada darah dagingmu tertinggal di Tiongkok, sudah tentu suatu waktu akan kau kembali lagi disini,
sehingga ada harapan kita berdjumpa pula." (Harapan ini belakangan ternjata hampa: sampai ia menutup mata nj. Lie
tidak dapat bertemu lagi dengan nj. Go dan suaminja).
Nj. Go merasa bingung, jang manakah diantara kedua anaknja akan ditinggalkannja di Tiongkok? Keduanja sangat dikasihinja.
Lain daripada itu, Siauw Hong jang mungil adalah buahhati neneknja di Indonesia, sedangkan Siauw Gok masih baji.
Achirnja, setelah bermufakatan dengan Ban Teng, diambilnja keputusan untuk meninggalkan Siauw Gok sadja: anak ini
belum tahu apa2 dan tentu tidak mendjadi terlalu sedih djika ditinggalkan.
Nj. Lie girang sekali dengan keputusan nj. Go. Tetapi apa mau, ketika hari untuk keluarga Ban Teng bertolak sudah
semakin dekat, dengan se-konjong2 Siauw Gok terserang penjakit buang2 air. Segala matjam obat tiada jang menolong.
Maka pada waktu hari berangkat sudah tiba, nj. Lie berkata kepada nj. Go: "Anak ini masih begini ketjil,
lagi menderita sakit begini hebat. Bagaimana dapat kurawatnja? Lebih baik kau tinggalkan Siauw Hong sadja
disini."
Achir2 nj. Go dan Ban Teng mengalah. Siauw Hong: ditinggalkan dan Siauw Gok dibawa pulang ke Indonesia.
Aneh sekali, demi kapal bergerak meninggalkan pelabuhan, penjakit Siauw Gok dengan tiba2 mendjadi sembuh sendiri!
Sinshe Lo Ban Teng meng-geleng2kan kepala oleh karenanja. "Haiya," katanja kepada isterinja",ar-wah Hoa Say "(sebutannja terhadap mendiang gurunja, Yoe Tjoen Gan) sungguh sakti. Telah kudjandjikan arwah beliau untuk menjerahkan
Siauw Hong sebagai puteranja. Engkau hendak menjerahkan Siauw Gok. Tetapi rupanja Hoa Say tidak mau!......"