Anak2 Shine Lo Ban Teng Sesudah Siauw Tjoen, terlahirlah seorang anak perempuan Siauw Ling (1943) lalu Siauw Tjiok. djuga seorang anak perempuan (1947), kemudian seorang anak laki2 Siauw Tjioe (1949), Siauw Koan (pr., tahun 1952) dan anak keduabelas Siauw N'jo, pr. (1955). Beberapa antara anak2 itu djuga sangat mahir dalam ilmu-silat, djuga Lee Hwa, anak perempuan jg. ada di Tiongkok itu. dari isteri sinshe Lo jang pertama. Lee Hwa mulai dilatihnja semendjak umur 14 th., jakni ketika sinshe Lo berumur 34 th. Anak ini punja bakat baik sekali dan sangat tjerdas, Sehingga peladjaran silat jg. diberikannja tjepat sekali dapat dimahirkannja. Pada masa kanak2 Lee Hwa memakai kuntjir (tauw-tjang) Pukulannja begitu keras. sehingga diwaktu berlatih. apabila ia menggerakkan tubuh sambil memukul, kuntjirnja menjabat seperti udjung tjemeti dan tempo2 terlibat didahinja sendiri. Pada masa hidupnja, sinshe Lo sering bertjeritera kepada penulis tentang Lee Hwa ini Dikatakannja. meskipun ia seorang anak perempuan. pukulanja Lee Hwa masih lebih hebat daripada Siauw Gok. puteranja jang kini boleh dikatakan mewarisi seluruh keahliannja. Orang jang pernah menjaksikan Siauw Gok berlatih dan melihat betapa keras pukulannja, dapat membajang-bajangkan sendiri betapa hebat pukulan tatjinja. Lee Hwa itu. Pada suatu waktu, demikian ditjeriterakan, di Tjiobee ada keramaian. Djalanan penuh sesak dengan penonton2, djuga jang datang dari kota lain, antaranja sudah tentu terdapat pemuda2 jang tjeriwis, jg. tidak sadja bermaksud menonton tetapi djuga ingin memuaskan mata dgn. melihat gadis2 tjantik — bahkan tempo2 menggodanja. Djuga Lee Hwa. dengan diantar seorang bibinja. ber-djalan2 menjaksikan keramaian itu. Melihat Lee Hwa jang tjantik. apalagi hanja berdjalan berdua tanpa diantar seorang laki2, beberapa pemuda tjeriwis berlaku tengik dan bertingkahlaku sebagai tjatjing kena abu. Mereka menguntit, mengeluarkan kata2 jang tidak pantas. dsb. Lee Hwa diam sadja. Beberapa antara pemuda2 tjeriwis itu semakin berani dan seorang antaranja mendekati Lee Hwa. Ia tjoba menjentuh buah dada sinona,tetapi njatanja ia mentjari penjakit sendiri: dengan ketjepatan sebagai kilat, Lee-Hwa mengegos dan serentak menjikut iga sitjeriwis itu. Akibatnja, sitjeriwis mendjerit saking kesakitan dan berdjongkok ditengah djalan sambil meringis-ringis2 Lee Hwa berdjalan terus, se-olah2 tiada terdjadi sesuatu. Ketjuali rombongan pemuda tjeriwis itu, peristiwa ini tiada jang ketahui diantara keramaian itu. Namun seorang pemuda, jang tengah menonton dari atas loteng sebuah rumah melihatnja djuga. la merasa bersjukur, sitjeriwis mendapat bagiannja. Serentak iapun merasa ketarik hati dengan Lee Hwa. Belakangan pemuda itu. jang bernama Tjiok Kim Gwan. menjuruh orang tuanja melamar Lee Hwa. Lamaran diterima baik. karena ia seorang pemuda baik dan sopan, sehingga demikianlah mereka menikah. Ahliwaris Ho Jang Pay Namun Siauw Gok hampir2 sadja gagal. Semendjak masih kanak2 ajahnja sudah mulai melatihnja, akan tetapi pada waktu itu
ia berlatih setjara atjuh-tak-atjuh. Minat untuk memahirkan ilmusilat tidak ada padanja. la lebih suka bermain2 bersama
kawan2 diluar rumah, bahkan mengadu kelapa dan ......mengadu ajam tempo2, seperti lazim anak laki2 jang agak nakal
dan binal. Disekolah iapun sering berkelahi, tetapi kebanjakan ia menderita labrakan, sehingga kawan2nja mengedjeknja. "Anak guru silat tidak punja kemampuan apa2" demikian edjekan tersebut. Lama2 ia mendjadi sakit hati dan mau djuga ia
memperhatikan peladjaran ilmu silat. Dalam umur 17 tahun barulah ia berlatih dengan sungguh2. Sinshe Lo mendjadi girang
sekali dan menggembleng puteranja itu dengan saksama. Akan tetapi karena pada waktu itu beliau sudah berumur 60 tahun
dan hatiketjilnja bergelisah, karena diantara putera2nja belum ada jang
|