Halaman 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12
 

kelihatan akan dapat mewarisi keahlianja kelak. maka ia ingin Siauw Gok lekas2 pandai sehingga ia mendidik Siauw Gok dengan tangan besi. Bengis sekali pendidikan sanj ajah, sampai2 Siauw Gok sering diumpat djika berbuat kesalahan2 dalam latihan.

Tjara pendidikan itu membawa effek sebaliknja daripada jang diinginkan sinshe Lo. Siauw Gok bukan mendjadi tjepat pintar. sebaliknja mendjadi semakin bebal dalam peladjaran silatnja,karena belum2 ia sudah ketakutan dimaki2. Tiap pagi. djika ajahnja sudah menantikannja diloteng untuk berlatihan dengan kaki dirasakannja berat sekali Siauw Gok mendaki tangga menudju ketempat latihan ditingkat kedua itu. Sinshe Lo semakin lama semakin tidak sabar mengadjarnja dan semakin pedas memakinja. sehingga kian lama semakin berkuranglah napsu beladjar Siauw Gok. Bahkan suatu waktu ia sudah mendapat pikiran untuk berhenti beladjar pada ajahnja dan mentjari seorang guru lain sadja. Ibu Siauw Gok mendjadi kasihan kepada puteranja Istrinja seringkali menasehati suaminja supaja djangan bersikap terlampau keras. "Bagaimana mungkin anak itu lekas pandai "ilmu silat." kata njonja Lo kepada suaminja, "kalau engkau selalu memarahinja dan menghardik2nja dengan bengis. Lagipula, seorang jang baru beladjar. tidak mungkin dapat melaksanakan segala gerak-gerik jang diadjarkan tanpa sesuatu kesalahan. Hendaknja sabar2 sadja. lama2pun tentu ia mahir."

Dalam pada itu, Siauw Gok sendiri mendapat edjekan2 daripada beberapa orang keluarganja. Kata salah seorang antaranja kepada Siauw Gok: "Engkau tidak mau beladiar silat dengan giat. Semakin dimaki ajahmu, semakin kau mendjadi malas. Engkau seorang anak jang tidak punja guna. Hanja pandai berkelujuran sadja. Nanti kalau ajahmu meninggal dunia, pastilah kaumendjadi djembel."

Nasihat pedas ini se-olah2 membuka pikiran Siauw Gok. Ia bertekad bulat untuk mempeladjari ilmu silat dengan sungguh2, begitupun ilmu obat2an Tionghoa. tidak perduli bagaimana bengispun ajahnja mendidik dan memperlakukannja. Selama dua tahun pertama Siauw Gok tidak menerima banjak matjam peladjaran. melainkan beberapa djenis sadja jang merupakan pokok2 dasar ilmu silat Ho Jang Pay. Jang lebih diutamakan pada masa peladjarannja itu ialah memperkembangkan pernapasannja (laykang) dengan latihan jang dinamakan Tjing Tjo Tao Kie, lebih djauh latihan Kao-ta dan Tjen-tjeng dgn. kaki-tangan kiri dan kanan;memperkembangkan kerasnja pukulan dan dajatahan terhadap pukulan lawan; ketadjaman perasaan; ketjepatan; timing; menggerakkan kaki dan tangan dengan berbareng; melempar tjioso dan memperkeras lengan2 tangan dengan djalan, "go kie" mengadu lengan dengan seorang partner.

Pada tahun 1952 Siauw Gok jang peladjaran silatnja sudah dapat diandalkan, pula sudah paham ihmi obat2an Tionghoa dan dapat menjembuhkan penjakit2, pindah ke Bandung. Disitu ia mengusahakan sebuah toko obat. akan tetapi kurang beruntung; dalam tahun 1954 ia pindah lagi 'ke Djakarta disebabkan ia mendapat luka2 terbakar lantaran kompor meledak. Mulai waktu itu ia membantu toko obat2an ajahnja di Djelakeng.

Kepalabatu tetapi disajang
LAIN daripada Siauw Gok, djuga, adiknja jang ketudjuh Siauw Tjoen, mahir pula dalam ilmu silat warisan ajahnja itu. Anak ini, jang kini berumu antar 17—18 tahun. benar seperti dikatakan sinshe Lo pada waktu dilahirkannja. agak ,"ngekbut", keras kepala alias kepalabatu. Pada waktu ia sudah agak besar. tidak djarang ia menimbulkan mendongkol mendiang ajahnja karena sikapnja jang selalu suka membatu djika disuruh melakukan sesuatu pekerdjaan. Alasannja ada2 sadja: ada kalanja ia mengatakan sibuk dengan peladjaran sekolah, atau lain2 lagi, supaja terbebas daripada tugas jang diberikan ajahnja. Seringkali mendiang ,sinShe Lo djadi naik darah dan mentjomelinja.

Tetapi Siauw Tjoen adalah jang paling sering menghibur ajahnja dan seringkali mengawani ajab itu mengobrol. Saudara2nja jang lain begitu menghormat sang ajah. sehingga tidak berani datang dekat djika tidak dipanggil. lebih2 mengobrol dengan ajah itu. Tjuma Siauw Tjoen seorang jang berani. Betapapun seringnja ia menimbulkan mendongkol ajahnja, tiap kalinja ia dapat menghilangkan pula rasa mendongkol itu dengan tingkahlakunja jang menjebabkan sang ajah mendjadi suka kepadanja.

Pada suatu hari sinShe Lo menjuruhnja Siauw Tjoen menggiling obat. Seperti biasa, Siauw Tjoen tjoba mengegos daripada perintah itu. Kali ini dengan alasan: "Banjak peladjaran sekolah. Sebentar sadja saja giling." Sinshe Lo, jang memang tidak bisa melihat anak2nja menganggur sadja, apalagi malas2an, mendjadi marah bukan main dan memaki habis2. Siauw Tjoen tidak menjahut. djuga tidak mendjalankan perintah itu. melainkan pergi keluar dan duduk diruangan depan. Sinshe Lo bertambah marah, "Anak kurang adjar," katanja. "Kalau disuruh mengerdjakan apa2. ada sadja alasannja. Kalau dimarahi,tidak mau bitjara dan menganggap orang tua seperti patung!"

Setelah itu sinshe Lo pergi kedepan. Melihat Siauw Tjoen duduk diruangan itu. waktu melalui anak itu ia membuang muka. Ketika masuk kembali. sang ajah membuang muka lagi. Siauw Tjoen bangun dan menghampiri ajahnja. Setjara mandja, bahkan sambil mengusap2 belakang ajahnja, dikatakannja: "Lihatlah itu! Bukan saja jang tidak mau bitjara, tetapi ajah jang tidak mau diadjak bitjara. Waktu ajah keluar tadi, melihat saja lantas ajah membuang muka. Masuk kedalam, ajahpun berbuat begitu. Tetapi selalu saja jang disalahi......"

Sinshe Lo tidak dapat tahan lagi hatinja. Amarahnja lantas bujar dan ia malah mendjadi...... tertawa! Ajah dan anak mendjadi berbaik kembali.

Pada tahun 1955 sinshe Lo mulai kurang awas matanja. Kedua matanja bersejaput (staar), jang semakin lama semakin menghebat sehingga hampir2 tidak dapat melihat. Selaput ini dioperasi dalam tahun 1957 dalam rumah sakit dr. Jap di Djokja. Akan tetapi pada waktu itu rupanja mulailah masa gelapnja. Sebulan lebih sekembalinja dari Djokja ia terserang penjakit njali jang hebat sekali, sehingga terpaksa masuk dalam rumah sakit Jang Seng le untuk mendjalankan operasi. Empatpuluh enam hari ia tinggal dalam rumah sakit. Sekeluarnja dari rumah sakit, kesehatannja tidak pulih seperti sediakala lagi. Belakangan ia menderita sakit lagi, jang menjebabkannja meninggal dunia pada tgl. 27 Djuli 1958 dalam usia 72 tahun.

Jang mungkin dan jang nonsens
PADA masa hidupnja sinshe Lo sering mengobrol dengan anak2nja dan sahabat2nja tentang ilmu silat dan pengalamanja. Dalam. kongkou2 itu ia memberi penjuluhan berharga kepada mereka. se-olah2 tengah memberi tjeramah2, jang membuka mata mereka tentang apa jang mungkin dan apa jang nonsens dalam ilmu silat. Kalau lagi ber"tjeramah demikian ia tahan berbitjara sampai ber-djam2 lamanja.

Pernah sekali ditjeriterakannja, bahwa didalam buku2 tjeritera silat seringkali dituturkan tentang gurusilat jang amat kesohor jang kalau tidur dirumahnja sendiri. tidak berani orang membanguninja setjara biasa, melainkan dari djauh sadja dengan menggunakan kaju pandjang atau toja. Chawatir ia kaget dan otomatis memukul, katanja. "Ini sugguh tidak masuk pada akal." kata sinshe Lo. "Tjeritera2 itu terlampau dilebih2kan. Pikir sadja, kalau itu mendjadi kebiasaan sigurusilat, tentu anak-isterinja bisa tjelaka. Siapa tahu, sianak atau isteri kelupaan dan membangunkanja setjara biasa tentulah kena pukul sehingga terluka parah! ...... Kalau tidur dirumah orang lain dalam perantauan didalam kuil2 atau ditengah hutan. sudah barang tentu orang harus siaga disegala waktu terhadap kemungkinan diserang. Tetapi dalam rumah sendiri lain perkara......"

Pada kesempatan lain diundjuknja, bahwa ada jang bilang, djika orang sudah mahir silat, tidak bisa memperoleh anak. Dikatakannja: "Lihat sadja berapa banjak anakku.
Tidak kurang daripada duabelas orang! Sampai2 aku kewalahan. rasanja!" Terhadap pembilangn, bahwa diwaktu hendak berlatih silat pada pagihari, sebaiknja djangan membuang air ketjil supaja air seni itu dapat mendjadi keringat, sinshe Lo berkata: "Bohong! Sebelum berlatih, malah harus membuang air ketjil dahulu, supaja tidak mendjadikan penjakit. Djuga harus makan sedikit agar usus2 kita tidak terlalu banjak mengeluarkan zat asam jang dapat menimbulkan sakit pada kantong nasi, dsb."

Pada suatu ketika salah seorang sahabat bertanja: "Benarkah katanja dapat orang mempeladjari"kiu sien" (menarik masuk bidji kemaluan) dan "tiap kut" mengatur rapi duduknja tulang-belulang sendiri)?" Pertanjaan ini menjebabkan sinshe Lo tertawa terbahak2. Sebagai djawaban dituturkannja sebuah tjeritera: "Pada suatu peristiwa di Tiongkok ada seorang guri silat jang mempunjai seorang murid sangat tjerewet dan banjak kali mengadjukan pertanjaan2 jang menjebalkan serta aneh2. Pada suatu hari,saking mendongkolnja sang guru mendjawab salah satu pertanjaan murid itu: "Kau harus beladjar 'kiu sien' dan 'tiap kut'. Kalau kau sudah mahir benar, tiada seorang manusia dapat datang dekat denganmu." Simurid ketarik hati, tetapi berbareng bingung. Padahal ia Tidak tahu, bahwa gurunja sudah djengkel benar dan dengan kata2 itu seolah2 menjumpah muridnja supaja lekas2 mati — karena kalau bidji kemaluan sudah masuk kedalam, artinja orang jang bersangkutan hampir mati dan kalau tulang-belulang teratur beres, tentu orang itu sudah mati benar2 dan tinggal rerongkongnja sadja......"

Dapatkah orang melontjat sekaligus sampai keatas genting rumah seperti sering ditjeriterakan dalam tjeritera2 silat? bertanja salah seorang lain. Djawab sinshe Lo: "Manusia. bagaimanapun dilatih atau berlatih, tidak mungkin mwelontjat lebih tinggi daripada tubuhnja sendiri. Ketjuali djika ia melontjat dengan gala atau mendjambret sesuatu sebelum melontjat Lagipula ini harus dilakukannja dengan memakai awahan (aanloop) - (Dalam perlombaan2 atletik ada jang dapat melontjat,sampai 2 m.lebih, tetapi ini harus
memakai aanloop, lagipula melonjatnja tidak dengan mengangkat kedua kaki berbareng melalui ritangan, melainkan setjara agak menunggangi rintangan itu atau dengan menggulingkan tubuh sesudah ada diatas rintangan. Peo.). — Jang dapat melontjat setinggi beberapa kali tubuhnja ialah mahluk2 jang lututnja tertekuk kebelakang. misalnja kutjing, andjing, kidjang, belalang, djangkrik, dll. Kalau ada orang jang mengatakan dapat melontjat setinggi genting rumah — dia djusta. Djika benar2 ia dapat berbuat begitu, mudah sadja ia mentjari uang dalam djumlah2 besar. Kumpulkan sadja orang disuatu lapangan, seperti lapangan basketball di Prinsenpark, dengan mendjual kartjis masuk. Lalu memberi demonstrasi melontjat itu. Dengan dua-tiga kali melontjat sadja ia dapat mendjadi kaja, Akupun, kalau dapat melontjat setinggi itu, mau berbuat begitu. Siapa sih jang tidak mau mendjadi kaja?"

 

 

Halaman 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12