Gurusilat tidak mungkin kena pukul? "Tiap2 guru," djawab sinshe Lo, "betapapun liehaynja, masih bisa kena pukul pada waktu twitju jakni kalau ia mengadjar murid itu dengan sungguh hati dan memberi kesempatan kepada simurid untuk masuk menjerang. Tjuma bedanja, pukulan itu tidak akan kena telak, karena ia sudah terlatih benar dan berpengalaman. Kebanjakan guru tidak mau kena tersentuh tindju muridnja pada waktu twitju — maka ia tidak memberi kesempatan untuk simurid melaksanakan serangan. Tiap kali simurid tjoba menjerang, siguru sudah mendahuluinja. Lama2 simurid mendjadi takut dan kurang kepertjajaan pada diri sendiri. Achirnja ia tidak bisa madju dalam peladjarannja. Oleh karena selalu ada kemungkinan kena terpukul, entah dalam twitju. lebih2 dalam perkelahian jang sesunguhnja, perlulah kita berlatih laykang. Kalau kena terpukul djuga, pukulan itu tidak hebat djatuhnja pula kalau perlu dapatlah kita bertukar pukulan dengan lawan. Lihatlah sadja pertandingan2 tindju (boksen). Tiada djuara jang tidak pernah kena pukul. Tjuma bedanja, pukulan jang satu lebih keras daripada pukulan lawannja. Dan jang pukulannja lebih keras itu achirnja akan menang." Tempo2 djawaban2 jang diberikannja terhadap pertanjaan2 agak djenaka, humoristis, sehingga menimbulkan gelaktertawa. Misalnja,misalnja waktu salah seorang bertanja, benarkah dapat orang memahirkan Ilmu 'thiamhweekin', menotok djalan darah sehingga menjebabkan orang lumpuh sekudjur badan seketika atau biru — kemudian sembuh lagi djika ditotok kembali. shin-she Lo tertawa terbahak2. "Lebih baik kaupeladjari 'thiam' bakso didalam mangkok!" katanja sambil tertawa sehingga semua para hadirinpun tertawa. Kemudian disambungnja: "Kalau benar dapat orang memahirkan 'thiamhweekin",seperti sering dituturkan dalam tjeritera2 silat, gampang sadja orang mentjari uang dengan kepandaian itu. djika mau berlaku djahat. Datangi sadja se-orang2 jang kaja-raja, misalnja, lalu 'thiam' djalan darahnja, sehingga ia tidak bisa bergerak. Lalu minta ia membajar sedjumlah uang, baru di'thiam' lagi sehingga dapat bergerak pula! Tjeritera2 tentang 'thiamhweekin' itu bohong! Jang benar ialah, pada tubuh manusia memang terdapat bagian2 jang lemah, misalnja tenggorokan, sambungan2 tulang, urat2 atau kelenjar2 jang lemah. Kalau bagian2 itu kena terpukul atau tersodok keras dan tepat, memang orang dapat merasa lemas. Akan tetapi alangkah sukarnja tindju atau sodokan kita dapat mampir tepat dibagian2 itu, meskipun sengadja kita memtjarinja. Kalau kena djuga, kebanjakan adalah karena kebetulan sadja." Dikatakannja lebih landjut, boleh djadi apa jang sering ditjeriterakan dalam kisah2 silat Tionghoa tentang 'thiamhweekin' ialah bersandarkan ilmu peredaran darah dalam tubuh manusia, seperti jang umumnja dikena] dalam ilmu obat2an Tionghoa. Menurut ilmu itu, pada waktu2 jang tertentu, lebih tegas pada djam2 jang tertentu, djika peredaran darah terganggu, misalnja kena pukul, pada bagian2 tubuh jang tertentu pula, dapat menimbulkan akibat jang hebat. Tetapi didalam perkelahian, bagaimana dapat orang perhatikan djam2, menit2 bahkan detik2 jang tertentu itu, lalu mengirim pukulan ke-bagian2 darah jang tertentu pula? Lewat sedikit sadja, sudah tidak bisa. Lagipula, seperti dikatakan diatas, tidak mudah orang mengenakan bagian2 tubuh jang terpilih itu, ketjuali karena kebetulan belaka. Sinshe Lo-pun sering tertawa kalau orang bertanja tentang keahlian, seperti sering dituturkan dalam tjeritera2 silat, menjemburkan katjang hidjau dari mulut begitu keras, sehingga tembok sekalipun dapat tembus! Berapa kerasnja katjang hidjau dan berapa kerasanja tembok? ia balas bertanja. Kalau dapat. orang menjembur katjang begitu luar biasa keras (jang mana adalah mustahil, ketjuali dengan menggunakan sumpitan), bukan temboknja jg, tembus, melainkan katjangnja jang mesti hantjur. Jang Jebih djauh dikatakannja nonsens, ialah bahwa orang dapat berkelahi sampai ber-djam2, bahkan sampai setengah harian atau lebih. seperti sering ditjeriterakan — Ataupun dapat berdjalan luar biasa tjepat, sampai2 lebih tjepat dari lari kuda, jakni jang dinamakan 'hwihengsut' atau ilmu mengentengkan tubuh. Pertanjaan lain jang pernah diadjukan kepadanja ialah: benarkah dapat orang melatih djari2 tangan sehingga mendjadi luar biasa kuat dan dapat menembus segala sesuatu? Bahkan dapat menembusi tembok? Sinshe Lo hanja tertawa. Betapapun kuatnja djari2 tangan manusia berkat latihan saksama, takmungkin dapat menembusi sesuatu jang sangat keras, apalagi sekeras tembok. Pikirlah, demikian ditambahkannja, djari2 dapat dilatih, tetapi bagaimana dengan kuku2 diudjungnja? Kalau menjodok sesuatu jang keras — kuku2 mungkin terbongkar dan ini tentu sakit sekali! Sendi2 ilmu silat Tionghoa Semasa hidupnja sinshe Lo Ban Teng tiada henti2nja memeladjari segala sesuatu jang dapat memperdalam pengetahuannja dalam.
ilmusilat. Misalnja, ia sangat gemar memperhatikan gerak-gerik hewan2 jang sedang berkelahi, seperti ajam djago,
kutjing, andjing, dsb. Bahkan ia sendiri memelihara beberapa ekor burung srigunting seringkali diadunja berkelahi.
Lalu ia mempeladjari dengan saksama gerak-gerik mereka didalam pertempuran, (jara mereka menjerang, mengegos daripada Di Indonesia, lain daripada Lo Boen Lioe dan Lim Tjoei Kang, ada beberapa orang jang diterima sinshe Lo sebagai murid. Dizaman Djepang, misalnja, telah diterimanja beladjar sdr. Tan Tjoen Siang, jang dididiknja sendiri. Begitu berbakti sinshe Lo terhadap gurunja dahulu, Yoe Tjoen Hwa, begitu pula sdr. Tan mendjudjung budi gurunja itu. Pada waktu penghidupannja berubah mendjadi baik, pada beberapa kesempatan sdr. Tan telah membuktikan betapa ia selalu mengingat budi-kebaikan gurunja. Misalnja, ketika Siauw Gok merajakan perkawinannja, ia tidak sadja membantu tenaga, tetapi djuga menjediakan mobilnja, dsb., serta mengurus perajaan itu se-olah2 saudaranja sendiri jang menikah. Ketika sinshe Lo Ban Teng menutup mata, dalam pengurusan djenazahnja, sdr. Tan-pun telah mengeluarkan banjak tenaga, bahkan dalam pelbagai hal mendahului keluarga Lo mengeluarkan biaja untuk pelbagai keperluan. Sebagai kenang2an kepada mendiang gurunja, ia telah memberikan seperangkat medja sembahjang (altaar) untuk abu mendiang sinshe Lo. Murid lain dari sinshe Lo adalah sdr. Lie Kim Bie. Akan tetapi pada waktu itu (1955) mata sinshe Lo sudah agak kurang awas, sehingga sdr. Lie dilatih oleh Siauw Gok selama enam bulan. Sebagai penutup: sebuah peristiwa jang agak mentjengangkan Pada waktu djenazah mendiang sinshe Lo diperabukan di Muara Karang. Pada waktu djumlah kaju bakar jang normal dibutuhkan untuk maksud itu sudah habis, djenazah belum hangus. Kaju sampaikan harus ditambah lagi, sehingga pembakar2 djenazah merasa heran akan 'kuat'nja tubuh almarhum. Para hadirin ada jang saling bertanya, mungkinkah, berkat latihan2 hebat sepandjang tahun, tubuh almarhum telah mendjadi kelompok2 otot2 jang keras sekali? Entahlah!
|